Selasa, 09 November 2010

CINTA SEJATI

Rasulullah Sang Pecinta

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, R asulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tan ya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar se akan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan

peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.



Dikutip dari

M.H Ibnu Rasyeed

Oleh

Fahrudi Asmuni, S. Pd

Selasa, 8 Nopember 2010

Senin, 08 November 2010

BELAJAR MEMBACA


Sekedar masukan !!!!!!!!!
Belajar Membaca di Kelas I
Belajar membaca di samping sebagai satu tahapan penting dalam proses perkembangan anak,  membaca juga merupakan suatu keterampilan berbahasa yang pertama dan  paling utama bagi peserta didik di kelas rendah, karena mau tidak mau semua pembelajaran terkait dengan keterampilan membaca dan merupakan gerbang pertama untuk menuju proses pembelajaran lanjut yang lebih kompleks.  
Siswa kelas I di sekolah dasar memang sudah dibekali kemampuan dasar membaca ketika mereka berada di jenjang Taman Kanak – Kanak, meskipun hanya pengenalan huruf – huruf semata.  Gambaran pengalaman membaca siswa ketika mereka masih  di Taman Kanak – Kanak dapat dijadikan pijakan untuk pelaksanaan pembelajaran membaca di sekolah dasar.
Mengapa pengalaman “membaca” di TK perlu kita jadikan pijakan?
Sesungguhnya TK merupakan pendidikan formal untuk persiapan masuk sekolah dasar. Sebagai persiapan maka kurikulum TK sangat relevan dengan kebutuhan mereka di sekolah dasar. Agar pembelajaran berkelanjutan, pola mengajar membaca dengan pengenalan huruf   di TK akan dilanjutkan di sekolah dasar dengan arif dan bijaksana. 
Bagaimana cara membaca di TK atau anak – anak usia dini?
Berangkat dari pengalaman dari beberapa orang yang sudah “memaksakan” anak membaca saat usia TK bahwa trik pembelajaran membaca sebagai berikut:
1.    Mengenalkan alphabet huruf per huruf dengan kartu huruf (usahakan huruf kecil karena pada kelas I SD diawal ajaran belum dikenalkan huruf besar) melalui permainan menemukan alphabet yang disembunyikan guru. (manfaatkan alphabet dari palstik atau bikin dari kertas tebal).
Cara :
Sembunyikan  1 – 4 buah alphabet, minta anak mencarinya. Misalnya di tangan kanan atau kiri guru, saku baju atau di bawah buku.
Setelah anak menemukan minta dia menyebutkan huruf  dari alphabet yang dia dapatkan. Lakukan berulang – ulang,sampai anak benar – benar ingat huruf.
2.    Setelah anak mulai kenal huruf, mulai kenalkan flashcard suku kata bermakna. Buat kartu kata per suku. Misal : to   ----- ko  ----- ma  dan lain – lain. Alangkah baiknya disertakan gambar. Gambar paling baik adalah gambar hewan di sekitar anak. 
Cara :
a.    Sambil bercerita / dongeng dan memampangkan gambar kucing, katakan bahwa kucing tersebut bernama ku.
b.    Pampangkan suku kata ku.
c.    Beri penjelasan bahwa ku itu  si k ketemu si u demikian seterusnya.  Lakukan berulang – ulang.
3.    Kalau anak sudah paham suku kata bermakna, lanjutkan dengan kata – kata sederhana dengan 2 suku kata. Misalnya buku.
Cara :
a.    Sambil bercerita / dongeng pampangkan gambar. Misalnya buku.
b.    Pampangkan suku kata bu dan ku di bawahnya.
c.    Beri penjelasan bahwa buku itu  si bu ketemu si ku demikian seterusnya.  Lakukan berulang – ulang.
         Pengalaman di atas cukup menarik ………..!!! Ayo kita coba di kelas I yuk!
                                                           

  By Fahrudi Asmuni, S. Pd
 Guru Kelas I SDBI Martapura

STUDI BANDING PARA WAKIL RAKYAT


KUNJUNGAN KERJA LUAR NEGERI, BENCANA


DAN

HATI NURANI

Kunjungan kerja DPR ke luar negeri dalam rangka menjalankan program kerja legislatif dan studi banding adalah bukan suatu kesalahan, selama dilakukan semata-mata untuk keperluan legislatif yang terkait dengan kepentingan rakyat dan negara.
Kunjungan ke 5 negara (luar negeri) untuk masing – masing fraksi memang sesuatu yang wajar, mengingat Indonesia sebagai negara yang masih terus berkembang. Berkembang baik dalam hal pembangunan fisik maupun kebijakan berupa perundang – undangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita memang harus lebih  banyak belajar dari negara – negara yang sudah terdahulu maju di bandingkan Indonesia. Bukankah Rasulullah pernah bersabda “Tuntutlah ilmu walau sampai negeri Cina”. Sehingga mengaca dari tujuan kunjungan luar negeri tersebut untuk “belajar” demi kemajuan Indonesia sangatlah tidak salah bahkan wajib.
Namun …….. apakah tidak ada sedikit rasa terlalu memaksakan kehendakkah? Tatkala Indonesia sedang menangis. Tsunami Wasior, sampai Merapi yang memuntahkan awan dan lahar panasnya, serta berpuluh – puluh bencana lain yang berstatus waspada … menumpuknya pengungsi yang diakui atau tidak seakan mengais harap atas bantuan terhadap mereka. Bukankah sangat bijaksana ketika anggaran kunjungan kerja DPR ke luar negeri dipangkas untuk membantu mereka?
Mereka adalah “rakyatmu” yang dulu ketika diadakan PEMILU Legislatif  membawa Bapak / Ibu DPR bisa duduk di kursi panasnya DPR.
Namun juga bukan rahasia umum … ya … mumpung masih duduk jadi anggota DPR kapan lagi bisa jalan – jalan ke luar negeri dengan uang negara. Sudah banyak modal untuk biaya kampanye, siapa tahu 5 tahun akan datang sudah hengkang dari kursinya DPR. Ya mendingan sekarang … tatkala punya wewenang bikin kebijakan untuk kunjungan ke luar negeri.
Namun Bapak / Ibu anggota dewan yang terhormat .. buka hati nurani … berandailah … jika aku yang kena bencana, apa yang harus dan bisa kulakukan …???

MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA


KEMBALI SATU KESATUAN

82 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan satu SUMPAH SUCI yang dikenal dengan SUMPAH PEMUDA.
Sumpah suci itu merupakan tonggak perjuangan pergerakan dalam mencapai kemerdekaan. Rasa senasib sepenanggungan begitu melekat  di dada pemuda bangsa saat itu. Mereka menguras pikiran, tenaga, darah dan air mata untuk mencapai suatu kehendak … MERDEKA …..!!!
Keampuhan Sumpah Pemuda kala itu benar – benar teruji. Perjuangan bukan bersifat kedaerahan lagi namun menjadi perjuangan Nasional. Puncaknya 17 Agustus 1945 Indonesia bisa merdeka.
Namun kala kita sudah merdeka …. , zaman sudah berubah … generasi pun berganti ….. masih bermaknakah SUMPAH PEMUDA itu? 
Kalau mau jujur … Peringatan Sumpah Pemuda yang dilakukan tiap tanggal 28 Oktober tiap tahunnya seakan hanya merupakan seremonial belaka.  Bahkan ada sebagian masyarakat yang sama sekali lupa atau bahkan pura – pura lupa bahwa 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda.
Bahkan di beberapa daerah di Indonesia Peringatan Sumpah Pemuda dijadikan sebagai momentum untuk menyampaikan aspirasi mereka yang terkesan anarkistis, sehingga terjadi bentrok dengan aparat keamanan.
Mengapa ini terjadi ….??? Sudah tidak adanya lagi rasa satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa di hati kita. Semua sudah merasa benar sendiri dengan sudut pandang masing – masing.
Andai kita mau kembali ke “makna” sumpah pemuda sebenarnya bahwa kita adalah satu ….. Indonesia kembali akan jaya …!!!

                                                                       
Dimuat di Harian BANJARMASIN POST
                                                                        Edisi Kamis, 4 November 2010
                                                                        Di pojok “MEREKA BICARA”